Rabu, 30 November 2011
Forum Tanya Jawab 15: Transformasi Dunia
Transformasi dunia meliputi semua dimensi-dimensi yang ada yaitu dimensi material, formal, normatif, dan spiritual. Ini dapat digambarkan dalam bentuk sumbu-sumbu salah satunya sumbu ontologi dimana ujungnya merupakan berpikir intensif dan ekstensif, sementara diujung yang lain merupakan aspek tidak intensif dan tidak ekstensif. Sumbu yang lain yaitu sumbu aksiologi dimana terdapat baik dan etik diujungnya, sementara itu diujung yang lain terdapat tidak etik dan tidak baik.
Sabtu, 26 November 2011
Forum Tanya Jawab 14: Filsafat Pendidikan Matematika
Godel menyatakan bahwa ada paralelisme kuat antara teori-teori yang masuk akal objek matematika dan konsep-konsep di satu sisi, dan teori masuk akal benda fisik dan properti di sisi lain.Seperti benda-benda fisik dan sifat, objek matematika dan konsep yang tidak dibangun oleh manusia. Seperti benda-benda fisik dan sifat, objek matematika dan konsep yang tidak dapat direduksi kepada badan mental. Matematika objek dan konsep adalah sebagai tujuan sebagai objek fisik dan sifat. Matematika objek dan konsep adalah, seperti benda-benda fisik dan sifat, didalilkan dalam rangka untuk mendapatkan suatu teori yang memuaskan dari pengalaman kami. Memang, dengan cara yang analog dengan hubungan persepsi kita untuk benda-benda fisik dan sifat, melalui intuisi matematika kita berdiri dalam suatu hubungan kuasi-persepsi dengan objek dan konsep matematika.Persepsi kita tentang objek fisik dan konsep bisa salah dan dapat diperbaiki. Dengan cara yang sama, intuisi matematika tidak bodoh-bukti - sebagai sejarah Frege Dasar Hukum V menunjukkan - tetapi dapat dilatih dan ditingkatkan. Tidak seperti benda-benda fisik dan sifat, benda-benda matematis tidak ada dalam ruang dan waktu, dan konsep-konsep matematika tidak instantiated dalam ruang atau waktu.
Elegi Konferensi Daerah Imajiner
Orang berilmu berarti orang yang banyak ilmunya; berpengetahuan; pandai. Dengan ilmu, seseorang akan diberi cahaya dalam hidupnya. Ilmu laksana obor dalam kegelapan. Di sinilah, pentingnya ilmu dalam hidup manusia. Sehingga, pantas saja Rasulullah saw bersabda, "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim laki-laki dan perempuan."
Perilaku orang berilmu, tentu akan berbeda dengan orang yang tak berilmu. Allah berfirman, "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadillah: 11),
Perilaku orang berilmu, tentu akan berbeda dengan orang yang tak berilmu. Allah berfirman, "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadillah: 11),
Metafisika Filsafat
Banyak orang memandang bahwa filsafat adalah merupakan bidang ilmu yang rumit, kompleks dan sulit dipahami secara definitif. Namun demikian sebenarnya pendapat yang demikian tidak selamanya benar. Selama manusia hidup sebenarnya tidak seorangpun dapat menghindar dari kegiatan berfilsafat. Dengan kata lain perkataan setiap orang dalam hidupnya senantiasa berfilsafat, sehingga berdasarkan kenyataan tersebut maka sebenarnya filsafat itu sangat mudah dipahami. Contoh; Jikalau seseorang berpendapat bahwa dalam hidup ini materilah yang essensial dan mutlak maka orang tersebut berfilsafat materialisme. Jikalau seseorang berpandangan bahwa kebenaran pengetahuan itu sumbernya rasio maka orang tersebut berfilsafat rasionalisme, demikian juga jikalau seseorang berpandangan bahwa dalam hidup ini yang terpenting adalah kenikmatan, kesenangan, dan kepuasan lahiriah maka paham ini disebut hedonisme, demikian jika juga jikalau seseorang berpandangan bahwa dalam hidup masyarakat maupun negara yang terpenting adalah kebebasan individu, atau dengan lain perkataan bahwa manusia adalah sebagai makhluk individu yang bebas maka orang tersebut berpandangan individualisme, liberalisme. Jadi dapat disimpulkan bahwa Filsafat didalami tidak dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan problem secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu, serta akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektik. Dialektik ini secara singkat bisa dikatakan merupakan sebuah bentuk dialog. Untuk studi filsafat, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Media Pembelajaran yang berupa elegi ini dimaksudkan sebagai sarana pendukung dalam mempelajari Filsafat, agar kita mampu mengembangkan pemikiran filsafat. Elegi-elegi tidak hanya bersifat ringan dan menghibur tetapi juga bersifat intensif dan ekstensif. Makna yang terkandung di dalamnya berfsifat metafisik yaitu bersifat tersembunyi dalam rangkaian kalimat atau
kata-kata dalam bahasa Analog.
Terimakasih untuk Pak Marsigit atas semua ilmu yang telah di berikan kepada kami, semoga bermanfaat bagi kami..
amien..
Media Pembelajaran yang berupa elegi ini dimaksudkan sebagai sarana pendukung dalam mempelajari Filsafat, agar kita mampu mengembangkan pemikiran filsafat. Elegi-elegi tidak hanya bersifat ringan dan menghibur tetapi juga bersifat intensif dan ekstensif. Makna yang terkandung di dalamnya berfsifat metafisik yaitu bersifat tersembunyi dalam rangkaian kalimat atau
kata-kata dalam bahasa Analog.
Terimakasih untuk Pak Marsigit atas semua ilmu yang telah di berikan kepada kami, semoga bermanfaat bagi kami..
amien..
Sabtu, 19 November 2011
Elegi Menggapai Bahasa
Manusia tidak dapat lepas dari bahasa. Terbukti dari penggunaannya untuk percakapan sehari-hari, tentu ada peran bahasa yang membuat satu sama lain dapat berkomunikasi, saling menyampaikan maksud. Tak hanya dalam bentuk lisan, tentu saja bahasa juga digunakan dalam bentuk tulisan.
Pemikiran seseorang tentunya akan lebih mendapat pengakuan ketika sudah “dituliskan” sehingga orang lain yang membaca akan mengetahui apa yang ingin disampaikan seorang penulis. Pada dasarnya seluruh kegiatan manusia akan sangat berkaitan erat dengan bahasa. Entah sekedar bercakap-cakap dengan teman, atau dalam kegiatan formal seperti sekolah, kuliah bahkan dalam pekerjaan.
Filsafat juga tidak dapat lepas dari bahasa. Banyak filsuf yang justru mengawali pemikirannya dari problem bahasa. Tentunya bahasa disini bukan berarti sekedar mempelajari tata gramatikal bahasa ataupun bahasa asing, melainkan bagaimana pengertian seseorang dapat terpengaruh ‘hanya’ dari penggunaan kata-kata atau pemikiran. Sangat penting untuk dapat tetap berpikir kritis dalam mengerti ucapan seseorang maupun teks.
Pemikiran seseorang tentunya akan lebih mendapat pengakuan ketika sudah “dituliskan” sehingga orang lain yang membaca akan mengetahui apa yang ingin disampaikan seorang penulis. Pada dasarnya seluruh kegiatan manusia akan sangat berkaitan erat dengan bahasa. Entah sekedar bercakap-cakap dengan teman, atau dalam kegiatan formal seperti sekolah, kuliah bahkan dalam pekerjaan.
Filsafat juga tidak dapat lepas dari bahasa. Banyak filsuf yang justru mengawali pemikirannya dari problem bahasa. Tentunya bahasa disini bukan berarti sekedar mempelajari tata gramatikal bahasa ataupun bahasa asing, melainkan bagaimana pengertian seseorang dapat terpengaruh ‘hanya’ dari penggunaan kata-kata atau pemikiran. Sangat penting untuk dapat tetap berpikir kritis dalam mengerti ucapan seseorang maupun teks.
Elegi Menggapai Tidak Risau
Perasaan risau adalah titik api pertama, yang akan melontarkan sikap-sikap positif berikutnya, lalu membakarnya hingga menjadi matang. Sikap mawas, selalu mengevaluasi diri, tidak besar kepala, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang, dan lainnya. Keseluruhan sikap-sikap itu, pemantiknya adalah risau.
Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang hidup, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang-orang besar. Karena risau tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika, dan kompetisi. Tapi risau juga kendali dan sumber inspirasi bagi segala sikap kehati-hatian.
Sejarah tidak pernah memberi tempat bagi orang yang tidak pernah risau, selalu merasa aman, enjoy sepanjang hidup, tanpa beban sedikitpun, untuk dicatat dalam daftar orang-orang besar. Karena risau tidak saja simbol kesukaan akan tantangan, dinamika, dan kompetisi. Tapi risau juga kendali dan sumber inspirasi bagi segala sikap kehati-hatian.
Salam dari Thailand
Pada permulaan perkembangan pemikiran filsafat Yunani, tampaknya semata-mata berurusan dengan dunia fisik saja. Kosmologi jelas amat mengungguli penyelidikan-penyelidikan dalam cabang-cabang filsafat lainnya. Mazhab Milesian mengembangkan filsafat jasmaniah dan Mazhab Pythagorean mengembangkan filsafat matematis. Aliran ini berpendapat bahwa unsur-unsur kualitatif kosmos berasal dari unsur-unsur kuantitatif, yaitu bilangan-bilangan. Mazhab ini juga menaruh perhatian yang dalam pada masalah manusia, tetapi terutama dari sudut keagamaan di dalam kelompok tertutup tempat mereka hidup. Para pemikir Eleatik menjadi orang-orang pertama yang menggariskan cita-cita logika. Mereka menegaskan bahwa hanya rasio yang dapat membuka jalan ke arah Ada yang benar dan nyata.
Heraklitos berdiri pada garis perbatasan antara pemikiran kosmologis dan pemikiran antropologis. Dia menolak konsep tentang Ada yang dikemukakan Mazhab Eleatik. Bagi dia, pengenalan indrawi menjadi titik tolak yang terpecaya meskipun ia sangat menjunjung tinggi rasio (logos) sebagai kemampuan untuk mengenal, namun rasio itu sama bergerak dan terlibat dalam proses menjadi seperti segala sesuatu yang ada.
Protagoras, seorang sofis, mengatakan bahwa bukanlah Ada yang menentukan pengenalan kita, melainkan pengenalan kita yang menentukan Ada. Jadi bukan obyektivisme, melainkan subyektivisme. Oleh sebab itu "manusia adalah tolok ukur untuk segala-galanya".
Meskipun mereka tergolong filsuf alam, namun Heraklitos sudah yakin bahwa mustahil menyelami rahasia alam tanpa mempelajari rahasia manusia. Kita harus memenuhi tuntutan akan pengenalan diri bila kita hendak tetap menguasai realitas dan memahami maknanya. Oleh sebab itu Heraklitos menyebut seluruh filsafatnya dengan dua kata edizesamen emeoton ("Aku mencari diriku sendiri"). Namun kecendrungan berpikir yang baru ini, baru matang pada masa Sokrates, sehingga persoalan tentang manusia merupakan patokan yang membedakan pemikiran Sokrates dengan pemikiran pre-Sokrates. Ungkapan Sokrates yang sangat terkenal adalah "kenalilah dirimu sendiri".
Manusia adalah makhluk yang terus-menerus mencari dirinya sendiri dan yang setiap saat harus menguji dan mengkaji secara cermat kondisi-kondisi eksistensinya. Sokrates berkata dalam Apologia, "Hidup yang tidak dikaji" adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Bagi Sokrates, manusia adalah makhluk yang bila disoroti pertanyaan yang rasional dapat menjawab secara rasional pula. Menurut Sokrates, hakekat manusia tidak ditentukan oleh tambahan-tambahan dari luar, ia semata-mata tergantung pada penilaian diri atau pada nilai yang diberikannya kepada dirinya sendiri. Semua hal yang 'ditambahkan dari luar' kepada manusia adalah kosong dan hampa. Kekayaan, pangkat, kemasyhuran dan bahkan kesehatan atau kepandaian semuanya tidak pokok (adiaphoron). Satu-satunya persoalan adalah kecendrungan sikap terdalam pada hati manusia. Hati nurani merupakan "hal yang tidak dapat memperburuk diri manusia, tidak dapat juga melukainya baik dari luar maupun dari dalam".
Heraklitos berdiri pada garis perbatasan antara pemikiran kosmologis dan pemikiran antropologis. Dia menolak konsep tentang Ada yang dikemukakan Mazhab Eleatik. Bagi dia, pengenalan indrawi menjadi titik tolak yang terpecaya meskipun ia sangat menjunjung tinggi rasio (logos) sebagai kemampuan untuk mengenal, namun rasio itu sama bergerak dan terlibat dalam proses menjadi seperti segala sesuatu yang ada.
Protagoras, seorang sofis, mengatakan bahwa bukanlah Ada yang menentukan pengenalan kita, melainkan pengenalan kita yang menentukan Ada. Jadi bukan obyektivisme, melainkan subyektivisme. Oleh sebab itu "manusia adalah tolok ukur untuk segala-galanya".
Meskipun mereka tergolong filsuf alam, namun Heraklitos sudah yakin bahwa mustahil menyelami rahasia alam tanpa mempelajari rahasia manusia. Kita harus memenuhi tuntutan akan pengenalan diri bila kita hendak tetap menguasai realitas dan memahami maknanya. Oleh sebab itu Heraklitos menyebut seluruh filsafatnya dengan dua kata edizesamen emeoton ("Aku mencari diriku sendiri"). Namun kecendrungan berpikir yang baru ini, baru matang pada masa Sokrates, sehingga persoalan tentang manusia merupakan patokan yang membedakan pemikiran Sokrates dengan pemikiran pre-Sokrates. Ungkapan Sokrates yang sangat terkenal adalah "kenalilah dirimu sendiri".
Manusia adalah makhluk yang terus-menerus mencari dirinya sendiri dan yang setiap saat harus menguji dan mengkaji secara cermat kondisi-kondisi eksistensinya. Sokrates berkata dalam Apologia, "Hidup yang tidak dikaji" adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi. Bagi Sokrates, manusia adalah makhluk yang bila disoroti pertanyaan yang rasional dapat menjawab secara rasional pula. Menurut Sokrates, hakekat manusia tidak ditentukan oleh tambahan-tambahan dari luar, ia semata-mata tergantung pada penilaian diri atau pada nilai yang diberikannya kepada dirinya sendiri. Semua hal yang 'ditambahkan dari luar' kepada manusia adalah kosong dan hampa. Kekayaan, pangkat, kemasyhuran dan bahkan kesehatan atau kepandaian semuanya tidak pokok (adiaphoron). Satu-satunya persoalan adalah kecendrungan sikap terdalam pada hati manusia. Hati nurani merupakan "hal yang tidak dapat memperburuk diri manusia, tidak dapat juga melukainya baik dari luar maupun dari dalam".
Jumat, 18 November 2011
Elegi Pemberontakan Para Obyek
Berfikir merupakan subjek dari filsafat akan tetapi tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Subjek filsafat adalah seseorang yang berfikir/ memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh dan mendalam.
Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri.
Objek filsafat, objek itu dapat berwujud suatu barang atau dapat juga subjek itu sendiri contohnya si aku berfikir tentang diriku sendiri maka objeknya adalah subjek itu sendiri.
Elegi Pemberontakan Para Normatif
UN jangan hanya formalitas saja. Perubahan format kelulusan UN hendaknya menjadikan sekolah lebih terpacu untuk meningkatkan kualitas belajar-mengajarnya. Komunitas sekolah wajib menyikapinya dengan cerdas. Jangan lagi main akal-akalan. Saatnya pihak sekolah benar-benar menjalankan proses belajar dan mengajar dengan baik sehingga para siswanya dapat meraih angka tinggi saat US dan UN tanpa harus dibantu, tanpa membuat anak didik ketakutan atau menjadi stres.
Rabu, 16 November 2011
Elegi Ketika Sekali Lagi Pikiranku Tak Berdaya
Fatamorgana kehidupan, hanya sebatas hiasan semu yang menyesatkan dan menjadi jebakan. Seiring berjalan dan berputarnya roda kehidupan di dunia dan di akherat.
Rabu, 09 November 2011
Elegi Seorang Hamba Menggapai Harmoni
Kebahagiaan sebagai harmoni diri dapat dicapai dengan tiga cara, yakni dengan mengatur semua hasrat dan keinginan di dalam diri, kontemplasi terhadap alam semesta untuk memahaminya, dan dengan memperbanyak situasi kenikmatan-kenikmatan kecil di dalam aktivitas sehari-hari. Idealnya ketiga cara itu adalah satu dan sama, sehingga harus dilakukan secara bersamaan. Dengan hidup menggunakan ketiga cara ini, orang akan hidup secara bermakna, karena ia akan merasa hidupnya memiliki nilai, baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang lain.
Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih
Menurut saya, Elegi Wawancara Orang Tua Berambut Putih mengandung arti bahwa elegi- elegi yang Bapak tulis merupakan media pembelajaran sebagai sarana pendukung bagi mahasiswa dalam mempelajari Filsafat. Media yang berisi tulisan-tulisan atau karya bebas penulis yang didalamnya mengandung
nilai-nilai filsafat mengembangkan pemikiran filsafat. Dengan membaca elegi, kita mendapat kan ilmu yang tersembunyi di dalamnya.
nilai-nilai filsafat mengembangkan pemikiran filsafat. Dengan membaca elegi, kita mendapat kan ilmu yang tersembunyi di dalamnya.
Elegi Sang Bagawat Menggapai Kesempatan
Banyak dari kita yang tidak menyadari atau bahkan boleh dibilang tidak mau menyadari sebuah kesempatan yang ada di depan pelupuk mata kita.
Oleh karena itu, manfaatkan kesempatan dengan sebaik baiknya karena kesempatan tidak datang dua kali karena waktu yang tak akan pernah mungkin untuk bisa dikemabalikan.
Oleh karena itu, manfaatkan kesempatan dengan sebaik baiknya karena kesempatan tidak datang dua kali karena waktu yang tak akan pernah mungkin untuk bisa dikemabalikan.
Selasa, 08 November 2011
Elegi Pemberontakan Para Beda
Sering kita mendengar bahwa suatu benda yang berbeda itu sulit uuntuk disatukan, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa disatukan. Seperti halnya minyak dan air, dua hal ini sangat berbeda dari segi manapun dan dua hal inipun tak akan pernah bisa disatukan sampai kapanpun.
Dalam beberapa hal perumpamaan ini memang benar adanya, namun dilain pihak kedua perbedaan itu bisa disatukan. Karena merujuk pada kata orang bijak "sesuatu perbedaan yang ada diantara kita adalah hal yang sesungguhnya bisa menyatukan kita".
Dalam beberapa hal perumpamaan ini memang benar adanya, namun dilain pihak kedua perbedaan itu bisa disatukan. Karena merujuk pada kata orang bijak "sesuatu perbedaan yang ada diantara kita adalah hal yang sesungguhnya bisa menyatukan kita".
Elegi Jebakan Filsafat
Filfasat merupakan ilmu yang mencakup aturan-aturan atau norma dalam kehidupan sehari-hari. Dalam filsafat kita belajar banyak hal yang ada di dunia ini yang meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Di dalam Elegi Jebakan Filsafat ini dijelaskan bahwa "Jebakan Filsafat adalah lawan dari keadaan dimana seharusnya engkau berada. Yang telah disebut tadi itu hanyalah sebagian dari jebakan yang ada. Jebakan yang lain masih banyak misalnya: jebakan disiplin, jebakan kejujuran, jebakan kebaikkan, jebakan tanggung jawab, jebakan kepatuhan. Ketahuilah bahwa dari semua itu dapat aku katakan bahwa sebenar-benar jebakan adalah jebakan ruang dan waktu".Dari jebakan yang ada dan yang mungkin ada tersebut, kita membangun dunia salah satunya dunia dalam pikiran.
Elegi Menggapai Pikiran Jernih
Dari " Elegi Menggapai Pikiran Jernih ", menurut saya Hati dan Pikiran mempunyai keterkaitan. Hati kita sebagai pusat kecerdasan emosional dan spiritual kita, sedangkan pikiran sebagai pusat kecerdasan intelektual manusia. Hati yang bersih akan mendorong pikiran menjadi jernih dalam berpikir sehingga akan menghasilkan buah pikir yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia,kemakmuran di bumi, dan keberkahan dari Allah.
Salam dari Thailand
Wa’alaikum salam,
Selamat dan sukses untuk Bapak Dr. Marsigit, M.A. Semoga menjadi berkah. Kami tunggu cerita pengalaman bapak di perkuliahan..
Selamat dan sukses untuk Bapak Dr. Marsigit, M.A. Semoga menjadi berkah. Kami tunggu cerita pengalaman bapak di perkuliahan..
Langganan:
Komentar (Atom)