Selasa, 03 Januari 2012

Elegi Menggapai Pikiran Jernih

Dalam keheningan orang dapat mengolah pikirannya dengan lebih baik. Orang akan menemukan hal-hal yang menakjubkan bagi hidupnya berkat keheningan itu. Keheningan membantu orang untuk berpikir secara jernih dan terarah tentang hal-hal yang berguna bagi hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar pikiran kita senantiasa jernih. Kita ingin agar hidup kita selalu terarah pada hal-hal yang baik dan benar. Pikiran yang jernih dan baik biasanya akan menghasilkan hal-hal yang spektakuler dalam hidup ini. Banyak penemuan baru dalam berbagai bidang kehidupan manusia berasal dari kebeningan pikiran. Pikiran dapat bening, kalau orang mampu masuk dalam keheningan hidupnya. Mari kita berusaha untuk mengheningkan diri kita dalam situasi dunia yang hiruk pikuk ini. Dengan demikian, kita dapat memiliki pikiran yang jernih.

Elegi Menggapai Matematika Yang Tidak TUNGGAL

Menurut Kant, matematika sebagai ilmu adalah mungkin jika konsep matematika dikontruksi berdasarkan intuisi keruangan dan waktu. Kontruksi konsep matematika berdasar intuisi ruang dan waktu akan menghasilkan matematika sebagai ilmu yang bersifat “sintetik a priori”. Oleh Kant, metode sintetik dilawankan dengan metode analitik dan konsep “a priori” dilawankan
dengan “a posteriori”. Jika matematika dikembangkan hanya dengan metode “analitik” maka tidak akan dihasilkan (dikontruksi) konsep baru, dan yang demikian akan menyebabkan matematika hanya bersifat sebagai ilmu fiksi.

Menurut Kant, matematika tidak dikembangkan hanya dengan konsep “a posteriori” sebab jika demikian matematika akan bersifat empiris. Namun data-data empiris yang diperoleh dari pengalaman penginderaan diperlukan untuk menggali konsep-konsep matematika yang bersifat “a priori”.

Disinilah uniknya peran dari teori Kant, yang berusaha memberi solusi (jalan tengah) dari
pertentangan ekstrim antara kaum rasionalis dan kaum empiris dalam membangun landasan matematika. Menurut Kant, intuisi menjadi inti dan kunci bagi pemahaman dan konstruksi matematika.

Senin, 02 Januari 2012

Artikel Populer: Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika

Pendidikan karakter sangat diperlukan pada pembelajaran di sekolah-sekolah. Dengan pendidikan karakter, maka guru akan lebih mengetahui tentang karakteristik dari peserta didiknya. Setiap siswa mempunyai karakter yang berbeda-beda sehingga guru dituntut harus memahami karakter dari masing-masing siswanya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan berjalan efektif dan efisien. Pendidikan karakter juga memberikan dampak yang positif bagi perkembangna pendidikan di Indonesia. Seseorang yang mempunyai karakter baik akan bermanfaat bagi pribadinya untuk kehidupan yang akan datang. Bagi negara, ia akan menjadi generasi penerus bangsa yang mempunyai pengetahuan dan sikap yang bagus sehingga ia dapat memajukan bangsanya di mata dunia. Pendidikan karakter dalam matematika mempunyai aspek pemahaman tentang hakikat matematika, hakekat matematika sekolah, hakekat pendidikan matematika, hakekat nilai matematika, hakekat belajar matematika, hakekat proses belajar mengajar matematika dan hakekat pembudayaan matematika sekolah.

Aspek dalam pendidikan karakter meliputi material, formal, normatif dan spiritual. Aspek material berhubungan dengan hakekatnya adalah materi, sebagai contoh benda-benda konkret, gambar atau model bangun ruang, lambang, dll. Sedangkan dalam obyek formal yang terpenting adalah nilai dari suatu bilangan itu. Secara normatif, maka bilangan brmakna intensif dan ekstensif. Inilah kaitan normatif dengan pendidikan karakter. Terakhir yaitu spiritual yang berhubungan dengan hati. Jika bilangan ada di dalam hati kita, maka kita berada pada dimensi spiritual dari pendidikan karakter ini.

Minggu, 01 Januari 2012

Elegi Menggapai Lengkap

Manusia diciptakan sebagai makhluk sempurna dari pada makhluk ciptaan Tuhan. Dan Tuhan yang paling sempurna. Di dunia ini, yang dilakukan merupakan hasil dari reduksi. Seperti kata yang kita keluarkan, umur kita, nafas kita. Sebagai maklhuk kita haruslah berusaha untuk mencapai kesempurnaan sesuai porsinya yang terikat ruang dan waktu.

Elegi Menggapai Hakekat

Nilai yang hakiki, adalah sebuah hakekat, karena ia sudah tak terubah-ubah. Untuk mencapai hakekat, hendaknya kesadaran faktor yang utama. Semakin tinggi kesadaran manusia (high consciuousness) menuntut tanggungjawab yang lebih besar pula. Karena semakin tinggi kesadaran berarti seseorang semakin berkemampuan lebih serta dapat melakukan apa saja. Celakanya, bila kesadaran tinggi jatuh ke dalam penguasaan nafsu negatif. Sehingga manusia bukan melakukan sesuatu yang konstruktif untuk alam semesta (rahmat bagi alam), sebaliknya melakukan perbuatan yang destruktif (laknat kepada alam).

Elegi Menggapai Kenyataan

Realitas atau kenyataan, dalam bahasa sehari-hari berarti "hal yang nyata; yang benar-benar ada".

Dalam pengertiannya filsafat barat, ada tingkat-tingkat dalam sifat dan konsep tentang realitas. Tingkat-tingkat ini mencakup, dari yang paling subyektif hingga yang paling ketat: realitas fenomenologis, kebenaran, fakta, dan aksioma.

Forum Tanya Jawab 14: Filsafat Pendidikan Matematika

Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan, yaitu gejala "manusia di dunia yang mengembara menuju akhirat".

Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat.